>link "href"=’http://img98.imageshack.us/img98/9617/image3cr0.gif‘ rel=’ http://img264.imageshack.us/img264/7575/image16kn8.gif’/>

MADRASAH Sejarah & Perkembangannya

Posted by akhmad syaifudin Sabtu, 09 Maret 2013 0 komentar




Informasi buku :
Judul : MADRASAH Sejarah & Perkembangannya
Penulis : DR. H. Maksum
Penerbit : Logos Wacana Ilmu
Tempat dan tahun terbit ;  Jakarta : cet.II 1999
Hlm, 188





PENDAHULUAN
Dalam perkembangan tiga decade terakhir,Pendidikan  Islam tampak member kontriusi yang cukup berarti terhadap pendidikan Indonesia.Data statistic tahun 1994/1995 yang dikeluarkan Departemen Agama RI (Depag) dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di lembaga-lembaga pendidikan Islam mencapai 9-19% dari keseluruhan jumlah murid dan mahsiswa di lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia.
Dari sudut kurikulum,perkembangan pendidikan islam selama pemerintahan tahun 1996-1998, menunjukan adanya proses adaptasi dan antisipasi yang tinggi.Jika masa-masa sebelumnya madrasah-madrasah di bawah Departemen Agama terkesan sangat eksklusif dan cenderung terasing, maka pada periode ini lembaga-lembaga pendidikan tersebut sangat intens dalam proses perkembangan dan perubahan kurikulumnya
Selain kurukulum, pendidikan Islam juga memperlihatkan perkembangan dinamis di bidang kelembagaanya.Pendidikan islam yang berkembang di Indonesia dalam 30 tahun terakhir ini secara kelembagaan mengalami perubahan –perubahan yang sangat berarti.madrasah-madrasah ditata ulang , baik penjenjangan maupun jenisnya .penjenjangan pendidikan madrsah diatur sejalan dengan sistem penjenjangan pendidikan secara nasional.jenis madrasah dilingkungan Departemen Agama dewasa ini semakin bervariasi baik dikelola oleh Departemen Agama langsung, maupun oleh pihak swasta, mulai dari madrasah Diniyah Ibtidiyah sampai ke al-Jamiat al-Islamiyat.baik negeri maupun swasta.
Dalam buku ini yang berjudul Madrasah: Sejarah dan perkembangannya, karangan DR,H.makmun.Membahas tentang konsep dan kakteristik Pendidikan Islam, Madrsah pada masa Islam Klasik, Sejarah pertumbuhan madrsah, Perkembangan madrasah dan Kebijakan Pemerintah  di Indonesia

ISI
A.    Konsep dan karakteristik pendidikan islam
Dalam khasanah pendidikan islam terdapat sejumlah istilah yang merujuk langsung pada pengertian pendidikan dan pengajaran seperti tarbiyah, ta’dib, tabyin dan tadris.Begitu pula dalam sumber ajaran islam, al-quran dan hadits,banyak ditemukan perintah yang berkaitan dengan belajar dan berfikir.Kata 'ilm dalam al -Quran termasuk yang memiliki frekwensi penyebutan yamg sangat tingi.Bahkan sebagaimana dinyatakan dalam al-Quran sendiri pengangkatan manusia sebagai khalifatullah fi al-ard berkait langsung dengan pengajran dan pendidikan oleh Allah SWT kepada Adam AS.
Pemilihan kata tarbiyah yang merupakan istilah dari bahasa arab, agaknya lebih mengena karena konotasi ketuhanan didalamnya sangat kuat. Meskipun kegiatan pendidikan merupakan kegiatan manusia,tetapi sejalan dengan pandangan islam, kegiatan itu tidak lepas dari peranan Tuhan. Dan istilah lain seperti diatas dapat dipadukan sehingga menjadi kekuatan konsep pendidikan islam. Pemilihan kata tarbiyah dengan demikian lebih karena “ nilai sosial ”dalam arti istilah itu lebih umum diterima dalam situasi lokal tertentu .Dengan asumsi seperti itu,pada masyarakat lain bisa jadi istilah lain mendapat “nilai sosial” yang tinggi pula.yang penting,esensinya sama.pemilihan seperti itu,biasanya berlaku pada usaha “ penstandaran bahasa “
Menurut Muhammad Jamil Khayyat  bahwa pengertian pendidikan dalam pandangan al- Tarbiyah al-Islamiyah bukanlah pengertian pendidikan secara umum, melainkan sistem pendidikan yang berjalan diatas dasar sistem nilai-nilai yang sesuai dengan kaidah Islam.
Masyarakat muslim memiliki aqidah dan kebudayaan yang khas.dengan demikian ,maka konsep dasar pendidikan islam pun bertumpu pada unsur-unsur utama yamg menjadi landasan aqidah sendiri.Adapun sumber pokok pembangunan aqidah tauhid dalam islam adalah wahyu yang dinukilkan dalam al-quran dan al sunnha. Kenyatan inilah yang menjadi pendidika islam memiliki karakter khusus dibandingkan dari pendidikan lainnya.Dengan demikian, pendidikan islam dipandu oleh sumber yang jelas dan transenden ,yaitu wahyu. Selain berdasar al-quran dan al-hadits ,pendidikan islam juga berorientasi kepada msyarakt,seperti umumnya pendidikan lain.Kerena itu masyrakat juga menjadi dasar bagi pembentukan konsep-konsep pendidikan islam dan pelaksanaanya. dijadikannya masyarakt sebagai dasar,menunjukan karakter islam ajaran islam yang fleksibel dan berlaku di setiap tempat dan disetiap waktu.Dan karakteristik pendidikan Islam pada dasarnya dapat dilihat pada dua sisi pokok: pertama, aspek-aspek fundamental yang menggambarkan dasar dan tujuan pendidikan Islam sehingga membedakannya dengan pendidikan non- Islam dan kedua, kandungan utama pendidikan Islam yang menjadi subtansi untuk dikembangkan dalam kurikulumnya. Sepanjang lembaga atau satuan pendidikan seperti madrasah mempertimbangkan kedua factor diatas, maka ia dapat dikatakan tetap konsisten dengan karakteristik pendidikan islam.
Pendidikan Islam juga mempunyai prinsip-prinsip dasar antara lain:bahwa pendidikan islam adalah bagian dari proses rubiyah tuhan, pendidikan islam berusaha membentuk manusia seutuhnya, pendidikan islam selalu berkaitan dengan agama dan pendidikan islam merupakan pendidikan terbuka. Selain berpegangan pada prinsip-prinsip diatas, pendidikan islam juga dicirikan oleh kandungannya yang merupakan representatif dari ajaran islam. Dalam hal ini, kandungan pendidikan islam pada intinya bersumber pada semua aspek yang mengarah pada pemahaman dan pengalaman doktrin islam secara menyeluruh, seperti: megenai tentang aqidah tauhid,hakekat manusia,masyarakat,alam semesta, dan ilmu pengetahuan
Dalam mengemukakan gagasan mengenai pendidikan islam,para pemikir kontemporer umumnya mengkonstruksikan pemikirannya berdasarkan pada tiga hal :1.Melakukan kritik yang tajam terhadap kelemahan-kelemahan konsep pendidikan tradisional,2.Kritik itu dilakukan dengan mempertimbangkan kemjauan-kemajuan modern, 3.berusaha mengembalikan secara lebih ketat semua pemikiran yang ditimbulkan itu pada sumber ajaran-ajaran al-quran dan al-hadits.Dari banyak pemikiran Islam kontemporer, beberapa pemikiranya yang berkaitan dengan pendidikan islam. Seperti, Hasan Langgulung mengatakan bahwa tujuan pendidikan islam itu membentuk pribadi khalifah bagi peserta didik yang memiliki fitrah,ruh,kemauan,dan akal,sehingga pendidikan bertugas untuk mengembangkan keempat aspek tersebut agar eksis dalam kekhalifahannya itu sebagai wujud pengabdian terhadap tuhan sedangkan menurut al-kailani, pendididikan islam itu sebagai pendidikan yang mengani secara komprehensif dan menyeluruh aspek-aspek fundamental dalam kehidupan manusia ,yaitu akal,jiwa dan jasmaninya sehingga ia merekomendasikan penanganan yang serius terhadap aspek-aspek yang dapat meningkatkan kualitas dan efektifitas pendidikan

B.     Madrasah Pada Masa Islam klasik
Pendidikan Islam secara kelembagaan tampak dalam berbagai bentuk yang bervariasi.Disamping lembaga yang bersifat umum seperti masjid,terdapat lembaga-lembaga lain yang mencerminkan kekhasan orientasinya.secara umum, pada abad keempat hijriah dikenal sistem pendidikan(madaris al-tarbiyah) Islam. Hasan Abd al-Al, menyebutkan lima sistem pendidikan : Sistem pendidikan Mu’tazilah, Sistem pendidikan Ikhwan al-Safa, Sistem pendidikan bercorak filsafat, Sistem pendidikan bercorak Tasawuf dan Sistem pendidikan bercorak Fiqih(dan Hadis). Dan madrasah merupakan tradisi sistem pendidikan yang bercorak Fiqih dan Hadis.setidaknya pada masa Abbasyiah di Baghdad dengan kekhasannya itu madrasah merupakan lembaga pendidikan par excellence. Setelah berkembang masjid dan kuttab, madrasah berkembang pesat.
Hasan Abd al-Al  juga  menyebutkan bahwa institusi pendidikan islam abad itu meliputi:al-Kuttab, al-Majid, Hawanit a -Waraqiin,Manazil al-Ulama, al-salun al-Adabiyah, Duar al-kutub wa Duar al-‘ilm dan madraah.Dengan banyaknya institusi tersebut,menunjukkan bahwa tempat pendidikan didalam islam sangat variatif, sesuai dengan kenyakinan dalam islam yang mewajibkan menuntut ilmu.Akan tetapi jika diamati lebih lanjut,ternyata tempat-tempat pendidikan di atas kecuali madrasah,bukan dipersiapkan khusus untuk pendidikan.misalnya masjid sebagai tempat pendidikan dalam perkembangannya di pertimbangkan, dikarenakan pendidikan di masjid dianggap telah mengganggu fungsi lembaga itu sebagai tepat ibadah, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan,banyak ilmu yang tidak sepenuhnya diajarkan di masjid,dan timbulnya orientasi baru dalam penyelenggaraan pendidikan sehingga masjid tidak cocok untuk tempat pendidikan
Asal muasal pertumbuhan madrasah merupakan hasil dari tiga tahap :tahap pertama, tahap masid. Masjid yang dimaksud sebagai tempat pendidikan adalah masjid biasa(masjid college) yang di samping untuk tempat berjamaah shalat sekaligus majlis ta’lim(pendidikan). Tahap kedua adalah lembaga masjid–khan,yaitu masjid yang dilengkapi dengan bangunan khan (asrama, pemondokan)yang masih bergandengan dengan masjid. Tahap ketiga, barulah muncul madrasah yang khusus diperuntukan sebagai  lembaga pendidikan.Madrasah dengan demikian menyatukan kelembagaan masji-biasa dengan masjid-khan.Kompleks madrasah terdiri dari ruang belajar,ruang pondok dan masjid.Perkembangan madrasah itu sendiri di pelopori oleh Nizam al-Mulk .Menurut Syalabi, beliau yang mendirikan madrasah pertama yang bernama madrasah Nizamiyah pada abad kelima hijriah tepatnya pada tahun 457H, tetapi  bukti sumber sejarah mengatakan,bahwa madrasah berdiri sejak abad keempat hijriah dan dihubungkan dengan penduduk Naisabur, Apalagai pengarang tarikh naisabur menyatakan bahwa Abi Ishaq al- Isfirayini adalah orang pertama yang mendirikan madrasah di Naisabur.
Madrasah Nizamiyah didirikan dengan tiga tujuan.pertama, menyebarkan pemikiran sunni untuk menghadapi dari tantangan pemikiran syiah. kedua,menyediakan guru-guru sunni yang cakap untuk mengajarkan mazhab sunni dan menyebarkannya ketempa-tempat lain.  Ketiga,membentuk  kelompok pekerja sunni untuk berpartisipasi dalam mejalankan pemerintahan,khusunya dibidang peradilan dan manajemen. Sehingga dapat disimpulkan motivasi berdirinya madrasah  dikarenakan adanya   motivasi agama, ekonomi  dan politik.Dengan berdirinya madrasah,maka pendidikan islam memasuki periode baru  yaitu pendidikan  menjadi fungsi bagi negara dan sekolah-sekolah dilembagakan untuk tujuan sectarian dan indoktrinasi politik. Madrasah Nizamiyah mempunyai sisi negatif madrasah ini mengkonsentrasikan ushanya pada pengerjaran al-ulum al-syariah dan usul al-din sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan untuknya.konsekwensinya,mengabaikan ilmu-ilmu terapan yang praktis  (al-ulum al-tatbqiyyah al-amaliyyah) seperti ilmu “tib” dan falak .Ilmu itu sangat menonjol pada abad keempat dan awla abad kelima.

Tradisi keilmuan di madrasah dapat dilihat dari tiga aspek. Pertama, aspek transformasi madrasah.dilihat dari sisi keilmuan ,ilmu yang di ajarkan di madrasah masih merupakan kelanjutan dari yang diselenggarakan di masjid. Kedua, aspek aliran agama. Madrasah merupakan lembaga sunni atau aliran fiqh dan hadits  dan  madrasah menolak filsafat dan mantiq Yunani karena mantiq merupakan pintu menuju filsafat dan kesesatan, Hal ini  mengakibatkan madrasah kurang memperhatikan ilmu-ilmu yang berbasis logika dan filsafat kuat seperti ilmu kimia, fisika, kedokteran dll. Apalagi metode yang dominan di madrasah adalah  iqra’(ceramah) dan imla’(dikte) sehingga lebih merangsang budaya menghafal dari pada memahmi. Ketiga, Aspek politik pemerintah. Dari sudut keilmuan,keterlibatan pemerintah dalam madrasah hanya kepada ilmu yang mendukung satu mazhab yaitu mazhab syafi’i dari empat mazhab.Situasi ini menandai  bahwa orientasi sunni secara umum  merupakan kecenderungan rakyat atau kehendak sejarah.
Pengaruh madrasah terhadap dunia islam begitu besar.Pada masa klasik madrasah merupakan model umum dan standar untuk pendidikan islam tingkat menengah,setelah katatib.Dengan mendapat perhatian dan ikut campur pemerintah  sehingga  madrasah menyebar secara luas,apalagi banyak saudagar dan ulama yang mendirikan madrasah.faktor  madrasah dapat diterima  secara luas karena tujuan dan kurikulumnya yang sesuai dengan kecenderungan masyarakat ketika itu dan Madrasah merupakan lembaga yang menjanjikan pekerjaan. Pada era modern madrasah masih tetap hidup tetapi eksistensinya masih dipertanyakan ketika kurikulum nya masih dimonopoli oleh ulum al-naqliyah (islam sciences)

C Pertumbuhan  madrasah di Indoneisia
Eksistensi madrasah dalam tradisi pendidikan islam di Indonesia tergolong fenomena modern yaitu dimulai sekitar abad 20.Madrasah di Indonesia dianggap sebagai perkembangan lanjut atau pembaharuan pendidikan pesantren dan surau.Latar belakang pertumbuhan madrasah di Indonesia dapat dikembalikan pada dua dimensi yaitu, gerakan pembaharuan islam di Indonesia dan adanya respon pendidikan islam terhadap kebijkan pendidikan Hindia Belanda. Adapun faktor yang mendorong gerakan pembaharuan Islam menurut Karel A. steenbrink ,antara lain:factor keinginan kembali untuk kembali kepada   Al-quran dan al-Hadits, factor semangat nasionalisme  dalam melawan penjajah, factor memperkuat basis  gerakan sosial,ekonomi,budaya dan politik, dan factor pembaharuan pendidikan islam.
 Sacara umum,gerakan pembaharuan  islam di Indonesia dipengaruhi secara kuat oleh pemikiran dan usaha tokoh-tokoh pembaharu Timur Tengah pada akhir abad 19, khususnya oleh Jamal al-Din al-Afghani dan Muhammad Abduh.Adapun gagasan tokoh-tokoh pembaharu arab masuk ke Indonesia, sehingga memberi pengaruh gerakan pembaharuan di Indonesi yaitu dengan melalui peran mahsiswa dan sarjana Indonesia lulusan timur tengah dan juga melalui publikasi yang cukup intensif ,seperti melalui adanya penerbitan  majalah berbahasa arab dan melayu. Sedangkan adanya respon pendidikan islam terhadap kebijkan pendidikan Hindia Belanda itu dikarenakan kebijakan pemerintah Hindia Belanda masih ada diskriminasi untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang seluas-luasnya bagi rakyat Indonesia, sehingga sejumlah tokoh islam berusaha mendirikan pendidikan Islam yang sebanding dengan sekolah ala Belanda.Hampir semua organisasi dan gerakan Islam di Indonesia seperti Muhammadiyah, Nahdlatul ulama, jam’iat Khaer.dll.mendirikan madrasah-madrasah di berbagai daerah.Dengan berdirinya madrasah ,umat islam agaknya telah member respon yang cukup tepat terhadap kebijakan pemerintah Hindia Belanda,sehingga pendidikan islam di satu sisi tidak telalu tertinggal dan di sisi lain tetap mempertahankan cirri-ciri keislamannya secara kuat.
Madrasah  periode pertumbuhan memilki salah satu ciri yaitu eksistensinya antara satu sama lain masih terpisah – pisah.Usaha mendirikan madrasah masih bersifat pribadi atau organisasi dalam pengertian sempit. Madrasah di padang tidak memiliki hubungan langsung atau tidak langsung dengan madrasah di jawa.Tidak ada pengaturan yang bersifat umum dan mengikat mengenai bentuk kelembagaan,struktur manageman dan kurikulumnya.Namun Uniformitas pada madrasah- madrasah itu hanya dapat dilihat dalam hal sistem pendidikannya yang berkelas dan isi pendidikannya yang memberi perhatian pada ilmu-ilmu agama. Pada masa pertumbuhan madrasah khusunya di wilayah Minangkabau.Madrasah – madrasah di Indonesia sudah mempelihatkan tiga pola: 1.madrasah Adabiah yang di dirikan oleh Abdullah ahmad. merupakan pola madrsah yang bercirikan Islam dengan mata pelajaran yang lebih dominasi oleh bidang-bidang kajian umum dan diberi tambahan mata pelajaran agama. 2. Madrasah Diniyah yang didirkan oleh Zainuddin Labai el-Yunusiy  merupakan  pola  madrasah terpadu dengan mata pelajaran agama tetap dominsi tetapi mata pelajran umum juga diberikan dan 3. Madrasah Sumatra Tawalib,merupakan pola madrasah keagamaan dengan bidang-bidang ilmu yang diajarkan hamper semuanya bersifat keagamaan. Sedang madrasah yang ada di pulau Jawa,memiliki pola yang sama dengan di Minangkabau,tetapi agak berbeda,karena  madrsah di jawa didukung oleh perkumpulan-perkumpulan keagamaan yang lebi massif  seperti, Muhammadiyah (KH. Ahmad Dahlan), NU (KH,Hasyin Asy’ari), persatuaan Umat Islam  dll.

D.    Perkembangan Madrsah dan Kebijakan Pemerintah
Pada masa pemerintah kolonial Belanda, kebijakan pemerintah sendiri  terhadap pendidikan Islam pada dasarnya bersifat menekan karena kekhawatiran akan timbulnya militansi kaum muslimin terpelajar.Bagi pemerintah penjajah, pendidikan di Hindia Belanda tidak hanya bersifat pedagogis cultural,tetapi bersifat psikologi politis.Pandangan ini disatu pihak menimbulkan kesadaran bahwa pendidikan dianggap begitu vital dalam upaya mempengaruhi budanya masyarakat.Melalui pendidikan ala belanda dapat diciptakan kelas masyarakat terdidik yang berbudaya barat sehingga akan lebih akomodai terhadap kepentingan penjajah.Tetapi dipihak lain pandangan ini juga mendorong pengawasan yang berlebihan terhadap perkembangan lembaga pendidikan islam seperti madrsah
Salah satu kebijakan pemerintah Belanda dalam mengawasi pendidikan Islam adalah penerbitan Ordonasi Guru.Kebijakan ini mewajibkan guru-guru agama untuk memiliki surat izin dari pemerintah. Selain Ordonansi Guru, kebujakan lainnya yaitu memberlakukan Ordonansi Sekolah Liar. ketentuan ini mengatur bahwa penyelenggaraan pendidikan harus terlebih dahulu mendapat izin dari pemerintah.Dengan kebijakan itu menimbulkan dua corak reaksi umat islam :(1)Defensi yaitu dengan menghindari sejauh mungkin pengaruh politik Hindia Belanda itu terhadap sistem pendidikan Islam. definisi ini dilakukan oleh Pesanteren.(2)Progressif, bahwa tekanan pemerintah Hindia Belanda itu merupakan kebijakan diskriminatif. Sehingga membentuk lembaga pendidikan yang produknya sama dengan sekolah ala Belanda,tetapi tidak tercabut dari akar keagamaa, corak  ini didikuti oleh madrasah.Kebijakan  yang kurang menguntungkan terhadap pendidikan islam masih berlanjut pada masa penjajahan Jepang, meskipun terdapat beberapa modifikasi.walaupun diakui lebih memberikan kebebasan dari pada penjajahan belanda,tetapi kebijakan dasar pemerintah penjajahan jepang berorientasi pada penguatan kekuasannya di Indonesia. Untuk memperoleh dukungan dari umat islam,pemerintah jepang mengeluarkan kebijakan yang menawarkan bantuan dana bagi sekolah dan madrasah .Berbeda dngan pemerintah hindai belanda pemerintah jepang membiarkan dibukanya kembali madrasah -madrasah yang pernah ditutup masa pemerintahan sebelumnya,namun demikian pemerintah jepang tetap mengawasai berdirinya madrsah,dan dilaporkan bahwa pada masa penjajahan jepang pengembangan madrsah awaliyah digalakkan secra luas .perkembangan madrsah ini ikut mewarnai secra pola pengorganisasian pendidikan agama yang lebih sistematis
 Perkembangan Madrasah pada masa Orde Lama-sejak awal kemerdekaan sangat terkait dengan Departemen Agma yang mulai resmi berdiri 3 Januari 1946. Lembaga inilah yang secara intensif memperjuangkan politik pendidikan islam di Indonesia.Adapun tugas dari Departemen Agama yaitu 1.memberi pengajaran agama disekolah negeri dan partikulir 2.memberi pengetahuan umum madrasah dan 3. Mengadakan Pendidikan guru Agama (PGA) dan pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN). Pencapaian menonjol pada masa Orde baru dari pembinaan madrasah pada masa Orde lama adalah penegembangan yang intensif terhadap madrasah keguruan, baik dalam bentuk Pendidikan Guru Agama maupun sekolah Guru Hakim Agama. Adapun dalam pengembangan madrasah pada umumnya,variasi kurikulum antar berbagai perkumpulan masih Nampak meskipun sudah mulai diarahkan pada perjenjangan yang sesuai dengan perjenjangan sekolah,meskipun belum maksimal. Perkembangan madrsah pada masa orde lama memberikan sumbangan yang cukup penting bagi perkembangan madrasah pada masa berikutnya.Perkembangan jumlah PGA pada tahun 1951 mencapai 25 buah dan tahun 1954 mencapai 30 buah.dengan jumlah itu bisa diperkirakan banyaknya guru yang telah dicetak sehingga dapat mendukung pendirian dan perkembangan madrasah dan pendidikan agama di indonesia .sampai pertengahan dekade 60-an madrsah tersebar di berbagai daerah di seluruh profinsi Indonesia .dilaporkan bahwa jumlah madrsah secra keseluruhan mencapai 13.849 dengan jumlah 2.017.590. Perkemangan ini menunjukan sejak awla pendidikan madrasah memberi sumbangan yang signifikan bagi proses pencerdasan dan pembinaan ahlak bnagsa.
Pada masa pemerintahan Orde Baru,Madrasah belum dipandang sebagai bagian dari sistem pendidikan secara nasional,tetapi merupakan lembaga pendidikan otonom dibawah pengawasan Menteri Agama.Hal ini disebabkan karena kenyataan bahwa sistem pendidikan madrasah lebih didominasi oleh muatan-muatan agama, menggunakan kurikulum yang belum terstandar,memiliki struktur yangtidak seragam dan memberlakukan managemen yang kurang dapat dikontrol oleh pemerintah.Menghadapi kenyataan ini,maka langkah pertama dalam pembaharuan pendidikan madrasah adalah melakukan fomalisasi dan strukturasi madrasah. Formalisasi ditempuh dengan menegerikan sejumlah madrsah dengan kriteria tertentu yang diatur oleh pemerintah,disamping mendirikan madrsah–madrsah negeri yang baru.Sedangkan strukturisasi dilakukan dengan mengatur penjenjangan dan perumusan kurikulum yang cenderung sama dengan perjenjangan dan kurikulum sekolah-sekolah dibawah Departemen pendidikan dan kebudayaan.
Pada akhir 70-an sampai akhir 80-an, pemerintah Orde Baru mulai memikrkan kemungkinan mengintegrasikan madrasah ke dalam Sistem pendidikan Nasional.Usaha ini agaknya tidak sederhana karena secara konstitusional pendidikan nasional masih diatur oleh UU No.4 Tahun 1950 jo. No. 12 Tahun 1954 yang mengabaikan pendidikan madrsah.Yang bisa dilakukan pemerintah adalah memperkuat struktur madrsah,baik dalam jenjang maupun kurikulumnya,sehingga lulusan sekolahnnya  memperoleh pengakuan yang sama dengan lulusan sekolah-sekolah yang dikelola Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.Untuk tujuan ini dikeluarkan kebijakan berupa Keputusan Bersama Tiga Menteri pada tahun 1974 tentang peningkatan mutu pendidikan pada madrsah.
Memasuki decade 90-an,kebijakan pemerintah Orde Baru mengenai madrsah ditujukan secra penuh untuk membangun satu sistem pendidikan nasional yang utuh.Dengan sistem yang utuh ini,pendidikan nasional tidak hanya bergantung pada pendidikan jalur sekolah tetapi juga memanfaatkan jalur luar sekolah.Maka pemerintah Orde baru menyusun UU No.2 tahun 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional dan sekaligus  menggantikan UU sebelumnya.Dalam konteks ini penegasan definitif tentang madrsah diberikan melalui keputusan –keputusan yang lebih operasional dan dimasukkan dalam kategori pendidikan sekolah tanpa menghi1langkan karakter keagamaannya.Melalui upaya ini dapat dikatakan bahwa madrsah berkembang secara terpadu dalam sisitem pendiikan Nasional.
 Posisi integasi pendidikan islam dalam sistem pendidikan nasional tercermin dalam beberapa aspek. Pertama: pendidikan nasional menjadikan pendidikan agama sebagai salah satu muatan wajib dalam semua jalur dan jeni pendidikan.kebijakan ini tentu sangat berarti dalam proses integrasi pendidikan  secra nasional karena telah menyakinkan khususnya kaum muslimin bahwa sistem pendidikan nasional tidak bercorak sekuler.Kedua:dalam sistem pendidikan nasional , madrasah dengan sendirinya dimasukkan kedalam kategori pendidikan jalur sekolah.Jika sebelum ini terdapat dualisme antara sekolah dan mdrasah ,maka kebijaka n ini dapat dikatakan bahwa mdrasah pada hakekatnya adalah sekolah.Ketiga :meskipun madrsah diberi status pendidikan jalur sekolah,tetapi sesuai dengan jenis keagamaan dalam sistem pendidikan nasional ,madrsah memiliki jurusan khusus ilmu-ilmu syariah.pad jurusan ini bisa dikatakn bahwa sekitar 70 % dari muatan kurikulumnya merupakan bidang-bidang studi agama




PEMBAHASAN

Banyak istilah yang mempunyai pengertian pendidikan dan pengajaran.Istilah –istilah tersebut digunakan untuk mengetahui konsep pendidikan dalam islam.Dengan cara menelusuri istilah tersebut yang menyangkut hubungan derivasi dan makna asalnya.Namun demikian tidak ada istilah yang merangkum dan baku dalam konsep pendidikan islam,sehingga  semua istilah tersebut harus dirangkum dan disatupadukan sehingga saling melengkapi.
Pendidikan islam  itu selain berorientasi pada Al-Quran dan Hadist,juga harus  berorientasi pada  masyarakat,dengan masyarakat menjadi  sebagai dasar, hal ini menunjukkan bahwa karakter ajaran islam itu fleksibel.maka menimbulkan konsep pendidikan yang bersifat relatif sesuai dengan masyarakat dan waktunya,tapi penarikann konsep tetap berdasarkan al-quran dan hadis.Dan karakteristik pendidikan islam inilah yang membedakan dengan pendidikan lain, yang didalamnya menggambarkan dasar dan tujuan  pendidikan islam, dan  kandungan utama pendidikan islam yang berisi ajaran-ajaran islam tentang pendidikan.Jadi menurut saya pendidikan islam itu sangat penting bagi umat islam.Dengan adanya pendidikan ,umat islam dapat melaksanakan tugasnya sebagai kholifah di muka bumi dengan menggunakan segala potensi yang dimilikinya seperti akal, rohani dan jasmaninya.Yang terpenting bahwa materi yang ada dalam pendidikan islam itu bersumber dari al-quran dan hadits, yang merupakan wahyu dari Allah.bukan berasal dari pengalaman manusia semata.
Madrasah adalah salah satu bentuk lembaga pendidikan islam . Madrasah merupakan perkembangan dari masjid, sehingga ilmu yang diajarkan di Madrasahpun merupakan kelanjutan dari yang diselenggarakan di masjid dan Madrasah benar-benar lembaga pendidikan yang dipersiapkan untuk tempat pendidikan berbeda dengan lembaga-lembaga sebelumnya seperti masjid yang mempunyai orientasi lain selain untuk tempat pendidikan.Pada zaman islam klasik bahwa berdirinya Madrasah dipengaruhi oleh tujuan polik, ekonomi dan budaya.Selain itu berdirinya Madrasah sebagai kebangkitan golongan sunni, sehingga system pendidikannya diatur oleh pemerintah,dimana mayoritas penduduknya adalah golongan sunni yang bermazhab syafi’i.menyebabkan meteri yang diajarkan bercorak fiqh dan Hadits.Apalagi pemerintah sedang berkonflik dengan para pemikir syiah, ini mempengaruhi madrsah untuk menolak ilmu-ilmu yang berbasis logika seperti filsafat dan manteq.Menurut kaum sunni bahwa ilmu manteq adalah ilmu yang menjurus kepada kesesatan.Adapun metode yang digunakan lebih kepada iqra(ceramah) dan imla’(dikte), menyebabkan dimadrsah lebih membudayakan menghafal dari pada memahami.Sehingga ada yang mengatakan bahwa salah satu sebab kemunduran pendidikan islam waktu itu karena system madrasah yang kurikulumnya sangat terbatas hanya mengajarkan ilmu-ilmu agama saja dan menjauhi ilmmu-ilmu filosofis,sehingga daya penalaran umat islam mengalami kebekuan,yang menyebabkan pemikiran kritis,pemikiran dan ijtihad tidakm lagi dikembangkan akibatnya tidak ada lagi ulama yang menghasilkan karya-karya kintelektualisme yang mengagumkan.Disisi lain madrasah merupakan model umum dan standar  untuk pendidikan islam tingkat menengah pada masa islam klasik. Apalagi didukung dengan tujuan dan kurikulumnya yang sesuai dengan keinginan masyrakat kaum sunni dan Madrasah merupakan lembaga pendidikan yang menjanjikan pekerjaan,karena banyak dibutuhkan untuk menjadi pegawai pemerintah.Hal ini memyebabkan Madrasah banyak diminati oleh maysarakat.Apalagi peran positif dari pemerintah yang berusaha menyebarkan Madrasah secara luas dengan mendirikan madrsah-madrsah.Penyebarannya tidak hanya pada daerah timur tengah saja tapi idenya telah terawetkan sehingga Madrasah tetap eksis pada era modern ini.Seperti pada masa kerajaan Ustmani ,madrasah tetap terpelihara dan berdirinya Madrasah Deoband di India,itu merupakan bukti luasnya penagruh madrsah dan kuatnya eksistensi Madrasah hingga di abad modern.
Disini terlihat jelas perkembangan madrasah pada masa klasik  sangat di pengaruhi oleh aspek politik(kekuasan pemerintah) dan pemikiran keagamaan.Bilamana kedua sspek ini saling mendukung maka akan menjadikan madrasah mudah berkembang secara luas.

Pertumbuhan madrasah di Indonesia di latar belakangi oleh 2 hal, pertama: adanya gerakan pembaharuan  islam di indonesia,hal ini di pengaruhi oleh pemikirean dan usha-usaha para tokoh pembaharuan timur tengah yang memberi contoh pendidikan islam dalam bentuk yang lebih modren. Kedua: Respon pendidikan islam terhadap kebijakan pendidikan Hindia Belanda.Hal ini di karenakan kebijakan pendidikan Hindia Belanda yang masih ada diskriminatif untuk pendidikan bagi rakyat indonesia, khususnya pendidikan islam.Sehingga para tokoh membuat madrsah sebagai pendidikan islam yang sebanding dengan sekolah ala Belanda.
 Walaupun sudah berdiri madrsah tapi madrasah di indonesia masih belum ada pengaturan  yang bersifat umum dan mengikat mengenai bentuk kelembagaan ,struktur managemen dan kurikulumnya. Madrsah di indonesia khususnya  di Minangkabau, saat itu sudah menampakkan tiga pola pengajran.pertama, madrasah   adabiyah  dengan pola mata pelajaran umum lebih dominasi dari  pelajran agama, kedua:  madrasah Diniyah,dengan pola mata pelajaran agama tetap dominan  tetapi mata pelajran umum tetap diberikan. Tiga :  madrasah sumatra tawalib,dengan pola hampir semuanya bersifat keagamaan
 sedangkan pada masa penjajahan, saat kolonial Belanda memerintah di Indonesia, kebijakan pemerintahannya terhadap pendidikan islam bersifat menekan dan diskriminatif,apalagi pemerintah belanda mengeluarkan kebijakan Ordonasi guru dan Ordonasi sekolah Liar untuk mengawasi pendidikan islam. Hal ini menyebabkan respon umat islam berbeda-beda. Ada yang menghindari pengaruh politik Hindia belanda, dengan mengasingkan diri untuk membuat  sistem pendidikan tradisional pesantren.Tapi ada juga  yang tetap mengikuti kebijakan tersebut, tapi tetap berjuang mendirikan madrsah,karena keinginan mendapatkan kesetaraan dalam kelambagaan/ kurikulum yang sama dengan sekolah ala Belanda. Perlakuan yang sama juga dilakukan oleh pemerintah jepang terhadap pendidikan islam seperti madrasah.Namun pemerintah jepang lebih memberikan kebebasan dalam berdirinya pendidikan islam,walaupun tetap dalam kontrol pemerintah.
Perkembangan madrsah pada masa Orde Lama, pemerintah mendukung pendidikan islam, sehingga membentuk Departemen Agama untuk mengurusi pendidikan agama, kaitannya dengan perkembangan madrasah .Departemen agama menjadi andalan secara politis yang dapat mengangkat madrasah dengan pengambilan kebijakannya yang dapat meningkatakan mutu madrasah. Adapun kebijakan yang menonjol pada orde baru, dengan mendirikan Pendidikan Guru Agama ( PGA) dan pendidikan Hakim Islam Negeri ( PHIN ) yang bertujuan mencetak tenaga-tenaga profesional keagamaan/ guru agama.Dengan ketersedian guru yang di suplai oleh lembaga tersebut ,sehingga dapat menjamin perkembangan madrsah di indonesia.Pada masa ini Pendidikan di indonesia maish diatur dalam UU No. 4 tahun 1950.jo. No. 12 tahun 1954,yang dalam kenyataanya tidak memberi perhatian cukup besar pada pendidikan di luar sekolah seperti mdrasah.
Pada masa orde Baru, secara umum kebijakan pemerintah sangat berdampak positif terhadap pendidikan islam. Pemerintah orde baru memandnag bahwa lembaga itu harus dikembangkan dalam rangka pemerataan  kesempatan dan peningkatan mutu pendidikan.Sehingga pada masa ini pemerintah  dengan kebijakannya berkomitmen agar pendidikan islam menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional. Tapi hal ini cukup sulit dikarenakan pendidikan masih diatur dalam UU No. 4 tahun 1950.jo. No. 12 tahun 1954 dan mutu pendidikan islam masih belum bersaing dengan sekolah umum. Sehingga pendidikan islam  berupanya melakukan pembaharuan pendidikannya dengan cara menegerikan  sejumlah madrasah dan mengatur  penjenjangan dan perumusan kurikulum yang cenderung sama dengan perjenjangan dari kurikulum sekolah-sekolah di bawah departemen pendidikan dan kebudayaan . Maka pada tahun 1989, dunia pendidikan islam  memasuki era integrasi. Karena lahirnya UU No.2 / 1989



Komentar saya mengenai uraian diatas ,bahwa sejarah dan perkembangan madrasah itu tidak terlepas dari perkembangan system politik, dimana madrasah itu berkembang. Dalam hal ini  kaitannya dengann peran pemerintah dalam mengambil kebijakan yang bisa berdampak positif ataupun negative terhadap perkembangan madrasah. Apabila pemerintah mendukung  perkembangan madrasah, maka dalam mengambil kebijakan akan berdampak positif  bagi madrasah.Misalnya, perkembangan madrasah pada masa islam klasik dimana system politik dan pemerintahannya di kuasai oleh kelompok Sunni ,yang bermazhab syafi’I ,sehingga menyebabkan materi pendidikannya lebih kepada corak fiqih dan Hadits, dan cenderung mengabaikan pelajaran filsafat dam mantiq. Madrsah  di manfaatkan  oleh pemerintah untuk menjadi tempat doktrin politik ajaran sunni.Adanya tujuan politik ini, sehingga pemerintah berperan aktif dalam penyebaran madrasah dengan mendirikan madrasah- madrasah.Di sini memperlihatkan peran pemerintah sangat mempengaruhi corak dan perkembangan madrasah.
Namun,apabila pemerintah dan agama terjadi konflik dengan tidak mendukung adanya pendidikan islam seperti madrasah, menyebabkan madrasah sulit berkembang dan sulit memunculkan eksistenisnya sebagai lembaga yang bercorak keagamaan islam.Hal ini terlihat pada perkembangan madrasah di Indonesia pada masa Penjajahan. Dimana kebijakan-kebijakan pada pemerintahan  masa itu lebih bersifat menekan dan diskriminatif terhadap pendidikan islam.Dan setiap berdirinya pendidikan islam seperti madrasah  di Indonesia selalu di awasi dan di control oleh para penjajah.Sehingga madrasah sulit menyebar ke seluruh pelosok indonesia.Tetapi setelah kemerdekaan perkembangan madrasah telak tampak,dengan adanya dukungan pemerintah yang mendirikan Departemen Agama untuk mengatura dan  memperbaiki mutu pendidikan madrasah di indonesia. Baru pada masa orde baru lah, kebijakan pemerintah berdampak posif terhadap pendidikan madrsah, yaitu dengan menempatkan madrsah secara konsisiten dalam sisitem pendidikan nasional.Hal ini memperlihatkan adanya integrasi antara pemerintah (Negara) dengan agama yang berdampak positif terhadap perkembangan madrasah di Indonesia.



KESIMPULAN
Untuk menyebutkan pendidikan Islam sebagai suatu konsep, ternyata tidak ada istilah yang syamil (merangkum) dan baku.Pilihan terhadap istilah yang dapat dihuungkan dengan al-Quran dan Hadits, tetap membutuhkan kandungan lainnya.Perbedaan pilihan terhadap istilah dimaksud diyakini ukan menunjuk pada perbedaan terhadap dasar-dasar yang asasi dari pendidikan Islam,melainkan sekedar perbedaan dalam penekanan terhadap aspek-aspek asasi terseut.Dalam yang lebih praktis ,peredaan itu telah memungkinkan kelahiran dan perkembangan beragam institusi pendidikan dalam islam.Madrasah pada awalnya dapat dianggap sebagai hasil perkembangan dari institusi sebelumnya.namun demikian ,madrsah selanjutnya tidak selalu harus memiliki penekanan yang sama dengan institusi lainnya.Karena itu, madrasah tidak harus mematikan bibitnya,melainkan dapat tumbuh bersma-sama dan saling mlengkapi,dengan institusi pendidikan Islm yang lain
Sejarah pertumbuhan dan perkembangan madrasah tidak dapat dipisahkan dari perkembangan  aspek kehidupan masyarakatnya.Diantara aspek yang dapat dikatan menonjol dalam mempengaruhi perkembangan madrasah itu sejak masa klasik ialah aspek politik dan pemikiran keagamaan.Karena itu, melihat sejarah madrasah bukanlah semata-mata sejarah kelmbagaan pendidikan islam, tetapi juga sejarah politik dan pemikiran keagamaan.Dalam kasus pertumbuhan dan perkembangan madrasah di Indonesia ,sangat jelas terlihat bahwa kelahiran lembaga itu tidak sepenuhnya menjadi persambungan atau kelanjutan dari lembaga pendidikan tradisional yang sudah erkembang sebelumnya.Baru pada tahap belakangan sejumlah pesantren memasukan ke dalam sistem pendidikan nya pola madrsah .Dengan demikian,tanpa mempertimbangkan perkembangan politik dan pemikiran keagamaan di Indonesia ,agaknya tidak dapat mengungkap dengan semua aspek kesejahteraan madrasah di negeri ini.
 Dua factor  yang melatarbelakangi pertumbuhan madrasah di Indonesia secara konkrit adalah desakan politik pendidikan colonial disemua pihak ,dan munculnya pembaharuan pemikiran keagamaan dipihak lain.kolonialisme dapat dikatakan ikut memberi sumbangan bagi pertumbuhan madrasah atau sekolah islam di Indonesia karena kebijakan mereka yang menawarkan pola pendidikan yang berbeda dengan sistem pendidikan tradisonal.organisasi dan struktur pedidikan colonial sedikit banyak diadopsi oleh madrasah dengan tetap menjaga karakter pendidikan keagamaannya.pada tahap ini ,target dan tujuan sekuler dalam proses pendidikan dijadikan sebagai salah satu muatan dari target dan tujuan pendidikan Islam. Sebelum ini apa yang disebut dengan pendidikan islam secar formal tampaknya identik dngan pendidikan keakhiratan.
Bersamaan dengan desakan kolonialisme di atas, perkembangan pemikiran keagamaan di Indonesia pada akhir abad ke-9 telah secara langsung menjadi factor yang berpengaruh bagi pertumbuhan madrsah.para pelaku dan pendukung gerakan pembaharuan pada umumnya memiliki pengalaman pendidikan di Timu r Tengah yang sudah menerima pengaruh dari kaum  pembaru islam seperti jamaluddin al-afghani, Muhammad abduh dan rasyid ridha. Perhatian mereka dibidang pendidikan diwujudkan dengan gerakan rasionalisasi kelembagaan pendidikan islam sehingga dapat menjawab tantangan dan kebutuhan zaman yang mndesak. Hal ini membawa pada lahirnya pandangan progresif  yang memandang bahwa sistem pendidikan islam tidak dapt lagi bertumpu pada sistem pendidikan tradisonal yang terfokus pada pelajaran agama dan metode hafalan.Bentuk nyata dari pandangan ini adalah pendirian dan pengembangan madrsah .pengembangan madrasah itu dapat dilihat dari perkembangan kurikulum madrasah di segala tingakat nya , baik yang berkaitan dengan perbandingan prosentase, variasi komposisi , maupun model pemaduan antara mata pelajran agama, umum dan keterampilan, yang pada gilirannya juga memunculkan keberagaman madrasah itu sendiri.
Selain itu,eksistensi madrasah sebagai eksistensi pendidikan lainnya dipengaruhi oleh perkembangan eksternal .Namun demikian.disisi lain ia juga mempengaruhi perkembangan eksternal yang dimaksud.Hal ini menimbulkan proses dialektika yang terus menerus.Perekembangan madrasah yang cukup pesat sejak akhir abad 19 dirasakan sangat berperan bagi terbentuknya kelompok terdidik muslim di Indonesia.kenytaan ini sampai akhir decade 1990-an telah ikut menentukan pola hubungan antara agama dan negara bersifat simbiotik.Keterlibatan umat islam terdidik ,dalam tingkat yang cukup penting kedalam jabatan-jabatan politik menunjukan hal tersebut,atau berarti semakin pragmatisnya politik islam sehinga tidak lagi terjebak kedalam romantisme politik islam yang idealis.
Namun demikian,karena factor-faktor lain,sangat boleh jadi perkembangan politik Indonesia pada masa depan akan beurubah kearah format tertentu yang hingga sekarang masih sulit untuk diprediksi .denagn demikian bagaimana perkembangan madrasah di Indonesia masa depan ,juga sangat tergantung pada perkembangan politik mutakhir ini.Sebagaimana semua institusi yang sedang mengalami masa transisi dewasa ini,madrasah pun dituntut untuk  mengembangkan pradigma baru yang lebih transformatif.
 


0 komentar:

Poskan Komentar

Search

Pages

Google+ Followers

Total Tayangan Laman